Jember.kliksurabaya.co.id – Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama bersama Rumah Sakit Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta membahas sinergi penguatan strategi komunikasi publik dan rebranding RS UIN menyusul perubahan identitas dari Rumah Sakit Haji. Penguatan tersebut dinilai perlu dilakukan agar identitas baru rumah sakit lebih dikenal masyarakat sekaligus memperjelas karakter layanan yang ditawarkan.
Hal itu disampaikan Kepala Biro Humas dan Komunikasi Publik Kementerian Agama, Thobib Al Asyhar, saat menerima audiensi jajaran RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Kantor Kementerian Agama, Jakarta.
Thobib mengatakan, proses rebranding tidak cukup hanya dengan mengganti nama, tetapi perlu diikuti strategi komunikasi yang konsisten. Menurutnya, pengalaman Kementerian Agama dalam membangun identitas visual dapat menjadi salah satu referensi bagi RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
“Rebranding itu kaitannya dengan konsistensi. Itu rebranding yang sangat penting untuk menyangkut image dan persepsi,” ujar Thobib di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Ia menjelaskan, konsistensi identitas visual juga perlu diterapkan dalam berbagai produk komunikasi, mulai dari video, flyer, pengumuman, hingga penggunaan logo. Hal serupa, menurutnya, dapat diterapkan RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam membangun identitas barunya.
“Semua standardisasi publikasi itu harus terstandar. Misalnya pembuatan warna, video, flyer, pengumuman-pengumuman itu juga harus konsisten, termasuk penempatan logo,” katanya.
RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebelumnya memaparkan bahwa perubahan nama dari Rumah Sakit Haji menjadi Rumah Sakit UIN Syarif Hidayatullah Jakarta telah dilakukan sejak Oktober 2025. Namun, proses rebranding masih menghadapi tantangan karena nama lama masih melekat, termasuk di lingkungan internal.
Wakil Direktur Keuangan dan Pemasaran RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Eka Pujiyanti, mengatakan pihaknya masih menemukan penggunaan nama Rumah Sakit Haji dalam berbagai konteks. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya penguatan komunikasi agar masyarakat semakin mengenali identitas baru rumah sakit.
“Rebranding itu dimulai dari internal. Karena masih ada yang menyebut kami Rumah Sakit Haji. Jadi tugas Humas dan pemasaran adalah bagaimana mengomunikasikan perubahan ini,” ujar Eka.
Selain persoalan nama, penguatan komunikasi juga diperlukan untuk memperkenalkan posisi RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebagai rumah sakit pendidikan sekaligus rumah sakit layanan kesehatan. Rumah sakit tersebut memiliki sejumlah layanan unggulan, antara lain layanan kesehatan haji dan umrah, kardiovaskular, trauma center, onkologi, neuro emergency, dan dialysis center.
Dalam audiensi, Eka juga menyampaikan perkembangan kanal digital rumah sakit. Menurutnya, jumlah pengikut dan engagement media sosial menunjukkan pertumbuhan, tetapi jangkauan konten dan dampaknya terhadap kunjungan pasien masih perlu diperkuat.
“Follower sama engagement-nya banyak. Tapi memang reach jangkauannya itu masih belum sesuai dengan yang kita harapkan,” ujarnya.
Menanggapi hal tersebut, Thobib mengatakan komunikasi rumah sakit perlu diarahkan tidak hanya untuk menyampaikan kegiatan, tetapi juga menghadirkan informasi yang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Ia mencontohkan pengembangan website Kementerian Agama yang diarahkan menjadi sumber rujukan informasi, bukan sekadar kanal publikasi kegiatan.
“Pendekatannya itu bukan apa yang menurut kita penting, tetapi apa yang menurut pasien atau calon pasien. Jadi kalau orang mau bikin berita, pendekatannya bukan apa yang menurut kita penting, tetapi apa yang menurut pasien atau calon pasien,” kata Thobib.
Menurutnya, informasi kesehatan yang disediakan rumah sakit juga dapat dikembangkan menjadi konten edukasi yang lebih mendalam. Website, misalnya, tidak hanya memuat berita kegiatan, tetapi dapat menjadi rujukan mengenai layanan, informasi kesehatan, hasil riset, maupun pengalaman pasien.
“Website itu tidak semata hanya berisi informasi kegiatan-kegiatan dokternya, tetapi bila perlu dalam hal tertentu menonjolkan aspek-aspek yang sifatnya sebagai dampak dari rumah sakit. Bisa testimoni, bisa pengalaman berobat di sini,” ujarnya.
Thobib juga menyampaikan bahwa satu informasi dapat dikembangkan ke berbagai format komunikasi. Kementerian Agama, kata dia, menerapkan pendekatan satu informasi menjadi beberapa produk konten untuk menyesuaikan karakter masing-masing kanal digital.
Dalam pertemuan tersebut, Kemenag dan RS UIN Syarif Hidayatullah Jakarta juga membuka ruang kolaborasi dalam kampanye dan produksi konten. Kolaborasi komunikasi dapat dilakukan dengan tetap memperhatikan karakter visual dan identitas masing-masing lembaga.
Kerja sama ini dianggap penting karena komunikasi rumah sakit memiliki karakter yang berbeda dengan komunikasi kementerian. Rumah sakit tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga berhadapan langsung dengan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna layanan. (***)









