Festival Egrang ke-13 di Jember: Wujudkan Komunitas Ramah Anak Berbasis Budaya Lokal

Redaksi | News
oleh

Festival Egrang ke-13 yang diselenggarakan oleh Komunitas Tanoker di Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember, menjadi sorotan nasional dengan kehadiran Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan dan Wakil Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Helvi Moraza. Bertema “Memuliakan Bambu untuk Perdamaian,” festival yang digelar pada 26-27 Juli 2025 ini tidak hanya merayakan budaya lokal, tetapi juga memperkuat komitmen menciptakan lingkungan ramah anak dan mendukung pemberdayaan ekonomi berbasis kearifan lokal.

Membangun Ruang Tumbuh yang Sehat bagi Anak
Dalam sambutannya, Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menegaskan bahwa Festival Egrang menjadi contoh nyata bagaimana komunitas akar rumput dapat menciptakan ruang tumbuh yang sehat dan inklusif bagi anak-anak. “Bambu bukan hanya simbol perdamaian, tetapi juga cerminan filosofi keluarga dan komunitas yang saling menguatkan,” ujarnya. Ia menyoroti tantangan pasca pandemi, khususnya paparan konten digital yang tidak terpantau, yang dapat memengaruhi perkembangan anak. Komunitas Tanoker, menurutnya, berperan sebagai pelindung sosial untuk menjaga nilai, arah, dan moralitas anak-anak melalui permainan tradisional seperti egrang.

Festival ini dimulai dengan penanaman pohon secara simbolis, diikuti pemukulan kentongan sebagai tanda pembukaan, dan parade bersama yang melibatkan berbagai komunitas lokal. Hadir pula Bupati Jember Muhammad Fawait bersama jajaran pejabat daerah, yang turut menyaksikan penyerahan tiga sepeda bambu sebagai simbol inovasi lokal yang ramah lingkungan. Acara ini diramaikan oleh penampilan budaya dari Kartika Budaya x Tanoker Ledokombo, Sekolah Eyang Segar, SLB Branjangan, hingga Rumpun Bambu Hitam dari PAUD Tolaba.

Dukungan Ekonomi Kreatif Berbasis Kearifan Lokal
Wakil Menteri UMKM Helvi Moraza menyoroti potensi bambu sebagai pendorong ekonomi kreatif. “Festival Egrang memiliki nilai kemanusiaan, kegembiraan anak-anak, dan potensi ekonomi dari produk bambu. Ini harus menjadi ekosistem pemberdayaan yang berkelanjutan,” katanya. Ia mendorong pengembangan UMKM berbasis kearifan lokal untuk memperkuat ekonomi masyarakat Jember.

Ketua Komunitas Tanoker Ledokombo, Suporahardjo, menjelaskan bahwa tema festival tahun ini lahir dari pemikiran anak-anak. “Bambu itu seperti ibu, melahirkan egrang, permainan, dan kehidupan. Bambu tumbuh bersama, tidak pernah sendiri, seperti keluarga yang saling menguatkan,” ungkapnya. Ia menambahkan bahwa permainan tradisional berbahan bambu telah memicu perubahan sosial dan ekonomi, seperti munculnya kerajinan, kuliner, hingga pengembangan homestay di kawasan Ledokombo.

Bupati Jember Muhammad Fawait menyatakan bahwa Festival Egrang akan menjadi agenda tahunan pemerintah daerah. “Kemiskinan ekstrem yang berdampak pada anak-anak harus ditangani bersama. Festival ini bukan sekadar selebrasi, tetapi titik awal kebangkitan komunitas dan ekonomi Jember,” tegasnya. Ia juga mengapresiasi kehadiran dua wakil menteri sebagai bentuk dukungan terhadap inisiatif lokal yang selaras dengan visi nasional.

Festival Egrang ke-13 menghadirkan ragam kegiatan, mulai dari parade tarian egrang, bazar kuliner, pameran seni, lomba TikTok, penerbangan layang-layang, hingga layanan cek kesehatan gratis. Kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada anak-anak, tetapi juga menjadi bagian dari kampanye membangun karakter bangsa.

Menuju Ekosistem Pemberdayaan yang Berkelanjutan
Festival Egrang ke-13 menegaskan bahwa pelestarian budaya, perlindungan anak, dan pengembangan ekonomi dapat berjalan seiring. Kementerian PPPA mendorong perluasan model komunitas seperti Tanoker ke wilayah lain sebagai bagian dari komitmen menuju Indonesia Layak Anak 2030. Dengan filosofi bambu yang mengajarkan keteguhan, fleksibilitas, dan kebersamaan, festival ini menjadi simbol harapan untuk membangun generasi yang kuat, kreatif, dan berakar pada nilai-nilai lokal. (*)